Cara membuat Nasi Oyek (Singkong).

Dengan adanya diversifikasi pangan, disarankan perlu digali kembali kearifan tradisional dalam memanfaatkan bahan pangan yang berasal dari di luar nasi. Berkaitan dengan hal tersebut, dibawah ini akan dipaparkan cara orang Kajoran, Karanggayam, Kabupaten Kebumen, membuat nasi dari bahan dasar singkong.

Hal ini penting mengingat singkong dalam kondisi kering dapat tahan disimpan hingga berbulan-bulan. Untuk mereka yang sedang diet serat tinggi, dengan diet yang seimbang maka mengkonsumsi singkong merupakan salah satu alternative mencegah kegemukan. Langkah-langkah membuat nasi singkong itu sendiri memiliki nama-nama sebagai berikut :

Pertama, mengupas singkong untuk diawetkan. Singkong dapat langsung dikupas dan dijemur di bawah sinar matahari hingga kering dan hasilnya singkong kering yang disebut gaplek. Mengingat sejumlah singkong, seperti singkong karet misalnya, adalah beracun maka singkong harus direndam lebih dahulu selama tiga hari. Air rendaman itu akan sangat berbau dan disebut keluran. Sedangkan setelah direndam dan dibuang racunnya, singkong dijemur dan setelah kering namanya krekel.

Untuk menjadi nasi, tidak lantas dikukus begitu saja. Singkong harus dihancurkan dulu dalam lumpang kayu, dan proses ini disebut gemplong. Akhirnya singkong menjadi singkong yang telah hancur seperti pasir yang masih bercampur sehingga harus dipisahkan antara hancuran yang masih kasar, yang disebut dengan desel dan yang lebih halus yang disebut dengan nama guyengan. Proses seleksi ini disebut guyeng.

Di sini guyengan itu juga bisa disimpan seperti halnya beras. Guyengan yang kering ini disebut dengan oyek. Di beberapa tempat di Jawa Tengah, terutama di Wonosari, oyek akan dengan mudah dijumpai di pasar-pasar tradisional, terutama pada masa lebaran, karena kerinduan orang-orang Wonosari perantauan yang ingin bernostalgia dengan makan nasi oyek dan lauk gorengan belalang.

Setelah itu barulah masuk ke tahap pemasakan yang disebut dengan adang. Dengan menggunakan dandang yang terbuat dari tembaga dan menggunakan kukusan yang terbuat dari bambu, maka dikukus dalam waktu kira-kira satu jam, barulah menjadi nasi singkong yang orang orang Kajoran, Kebumen disebut sega budin.

Dalam persepsi masyarakat, nasi budin bukanlah makanan favorit, kecuali bagi mereka yang tinggal di rantau dan ingin bernostalgia. Hal ini tampak pada mereka yang memberi nama nasi beras sebagai sega temen atau nasi sungguhan. Sega budin hanyalah symbol kesengsaraan yang justru menjadi motivator bagi orang-orang Kebumen untuk merantau ke daerah lain menjadi transmigran, atau ke kota besar agar mereka dapat makan sega temen.

(Saya mengenal Nasi Oyek dari orang-orang transmigran di Lampung yang berasal dari Kebumen namanya Mbah Lasmi istrinya Mbah Ratam. Nasi oyek terasa lezat kalau dimakan dengan sayur santen pedas, dengan lauk peyek teri, sambel tomat dengan kulupan daun singkong)


Tidak ada komentar: